Cerpen

Tower of London

Oleh : Richa Ayu Lizani*

Sore ini sungguh cerah, burung-burung gagak–temanku–berseliweran ke sana ke mari. Aku tersenyum melihat gagak jantan sedang asyik merayu si gagak betina. Sedangkan yang lainnya sedang asyik bercengkrama. Secara turun-temurun dari nenek moyangnya burung gagak, mereka telah lama menjadi temanku. Mereka bilang aku istana dan benteng termegah yang pernah ada. Ya, aku tahu. Kulihat seorang anak kecil sedang memandangiku, matanya melebar ingin tahu.

Selanjutnya...

 

Something Different

Oleh : Fadilah Syafitri Nst*

Langkah kakiku terhenti di depan sebuah restoran masakan Jepang di salah satu mal di Medan. Sudah dua jam tiga puluh empat menit aku menunggu di sini. Tetapi batang hidungnya belum nampak juga. Aku menghela nafas panjang, kuperhatikan jam tanganku berulang kali. Sudah kesekian kalinya Rangga terlambat seperti ini. Mataku mengedar ke seluruh sudut.  Tanda-tanda Rangga belum juga ada.
Aku terkejut saat ponsel di saku celanaku bergetar menandakan ada panggilan masuk. Dengan segera aku melihat layar ponsel. Ternyata Rangga menghubungiku.

Selanjutnya...

 

Bola Kacaku

Oeh : Franky Febryan Banfatin*

Berjalan sendirian, pandangan gadis itu kosong. Aku sangat ingin memeluknya atau membuat penyanggah untuknya. Karena kelihatannya, gadis itu bisa jatuh sewaktu-waktu. Jalannya sangatlah pelan, tak bertenaga. Dia melewatiku, tanpa ada perkenalan, tanpa ada pamitan, tanpa ada senyum. Kali ini aku hanya bisa melihat punggungnya, tak dapat melihat matanya yang mulai layu tak bersinar lagi.

Selanjutnya...

 

Surat Terakhir untuk Pujaan ku (karena ku mencintaimu)

Oleh : Yulhaida Ailya Novani

Kamu pasti benci mendapatkan suratku ini, kamu pasti mengutukku dan kamu merasa bersyukur melihat keadaanku saat kamu baca surat ini. Tapi kamu harus tetap membaca suratku, karena disini lah kamu akan menerima semua jawaban-jawaban dari pertanyaanmu selama ini.

Selanjutnya...

 

Tangisan Generasi Terbunuh

Oleh : Agung Permana Putra*

Jalanan semakin hitam. Ban-ban hangus berserakan. Debu-debu hitam mencoreng warna yang telah kelam. Lembaran-lembaran kertas protes terbang bersama hembusan angin. Sebagaiman teriakan mereka, hilang mengambang. Menguap seperti air. Meneriakkan perubahan, reformasi katanya. Yah, mudah-mudahan dapat memperbaiki tatanan negara ini yang telah timplang. Tapi sayangnya mereka juga merubah gedung mewah jadi sampah bangunan. Membuat isi toko jadi barang gratisan.

Selanjutnya...

 
Artikel Lain...
Budayakan Menulis

Redaksi menerima karya berupa cerpen, puisi, dan opini.
Karya disertai identitas pengirim berupa nama dan asal instansi.
Karya yang telah masuk menjadi milik redaksi.
Dikirim melalui email ke redaksi@suarausu-online.com

Info Pemasangan Iklan:

Sandra

(0852 1839 9677)

Buku "Berawal dari SUARA USU"

Statistik Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini157
mod_vvisit_counterKemarin90
mod_vvisit_counterMinggu Ini247
mod_vvisit_counterBulan Ini1760
mod_vvisit_counterTotal73108

We have: 1 guests online
Sekarang: Sep 06, 2010

Terima Kasih Atas Kunjungannya. Silahkan Mengunjungi Kembali.