Jalan - jalan
Pantai Lampuuk, Wisata Pantai yang Eksotis
Di akhir pekan tempat itu selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Walupun tempatnya sangat terik tapi wisatawan seakan tak merasakannya karena terbayarkan dengan pemandangan pantai yang indah dengan hamparan pasir putih yang berkilauan bila diterpa matahari. Tak hanya itu, jilatan ombak pun seakan mengajak kita untuk bermain bersamanya dan juga terlihat tebing-tebing yang berdiri gagah membingkai pantai tersebut.
|
|
|

Terik matahari sore itu tak lantas membuat orang-orang meninggalkan tempat yang indah itu. Pengunjung masih saja bertahan di tempat itu, ada yang bersantai ria di pondoknya, ada juga yang bercerita sambil menikmati keindahan pantai dengan teman atau keluarga. Tak sedikit dari mereka juga terlihat sedang menikmati ikan bakar dan menu hidangan lainnya. Ada juga yang tetap membasahi diri di air laut.
Terik matahari sore itu tak menyurutkan keinginan Dini bermain bersama teman-temannya. Sebuah perahu usang yang dibiarkan berlabuh dalam posisi terbalik ke samping, menjadi pilihan mereka sore itu. Sayangnya baru beberapa menit bermain dengan perahu, seorang pria datang dan menyuruhnya segera pulang karena akan pergi ke sebuah acara. Dini pun mengikuti keinginan lelaki paruh baya yang dipanggilnya ayah itu.
Dalihan Na Tolu: Mora, Kahanggi, Anak Boru. Slogan kebanggaan masyarakat Angkola-Mandailing itu terpampang besar di pusat Kota Padangsidimpuan. Slogan yang berada di atas tugu setinggi lima meter dan dikelilingi pancuran air menambah keindahan kota itu. Walaupun baru berumur genap sepuluh tahun sebagai sebuah kota, namun Padangsidimpuan pernah tercatat sebagai kota kecil dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Indonesia. Tak lupa pula Piala Adipura pernah diberikan kepada kota ini dalam beberapa periode. Disamping masyarakatnya yang masih kental menggunakan bahasa daerah, kota ini juga masih menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Khususnya bagi yang beragama Islam, tabu rasanya bila kaum wanita tak memakai penutup kepala (kerudung).
Candi Portibi merupakan salah satu aset budaya milik Sumatera Utara. Terletak di Padang Bolak di Daerah tingkat II Kabupaten Tapanuli Selatan. Didirikan oleh Raja Rajendra Cola yang menjadi Raja Tamil Hindu Siwa, di India Selatan yang diperkirakan sudah berusia ribuan tahun. Kerajaan portibi merupakan kerajaan yang sangat unik. Keunikan pertama dari segi namanya yaitu portibi, Portibi dalam bahasa Batak artinya dunia atau bumi. jadi dapat diartikan kerajaan portibi merupakan kerajaan dunia. Keunikan kedua, portibi merupakan pelafalan Batak atas kata Pertiwi atau di India dikenal dengan nama Pritvi. Nama Pritvi ini sekarang dipakai menjadi nama sebuah rudal India. Diduga, intrusi orang-orang Hindu secara organisasi kemiliteran terjadi hanya di daerah ini di tanah Batak.











