PKL, Ekspresi Kedaulatan Ekonomi Masyarakat
USU, suarausu-online.com — Pedagang Kaki Lima (PKL) merupakan ekspresi nyata kedaulatan ekonomi masyarakat yang merupakan salah satu tonggak penyangga bagi masyarakat itu sendiri. Hal tersebut dikemukakan Arif Nasution, mantan dekan FISIP dalam diskusi jalanan dengan topik Haruskah Pedagang Kaki Lima Digusur demi Pembangunan Kota Medan? yang diselenggarkan kelompok diskusi Research Club FISIP USU kamis (18/2) di pelataran gedung D FISIP.
Menurutnya, PKL terbentuk karena kesenjangan ekonomi negara dan merupakan sektor informal yang memberikan peran positif bagi kehidupan kaum papa. Jika digusur tanpa jaminan, hal tersebut tidak sepatutnya dilakukan. “PKL merupakan produk negara serta perpanjangan tangan distributor, penggusuran tanpa jaminan bukanlah jalan. Perlu pemikiran dan pengkajian lebih matang sebelum melakukan hal tersebut” papar Arif.
Husni Thamrin, pengamat sosial pembangunan yang juga merupakan salah satu dosen FISIP memiliki pandangan yang sama. Dikatakannya bahwa penggusuran tidak akan memberikan jawaban atas permasalahan PKL. “Mereka akan muncul lagi dan ada ditempat yang lain, itu akibat penggusuran tanpa kejelasan pekerjaan untuk kelangsungan hidup mereka,” ujarnya.
Diskusi ini juga menghadirkan Irsan Mulyadi, jurnalis kantor berita ANTARA dan Afrizal Kurniawan, anggota tim advokasi PKL. Juga turut dimeriahkan grup musik jalanan D’ Bamboes, Ice cream serta rujak party. Endika Pratama, ketua Research Club mengatakan bahwa diskusi ini merupakan stimulus berfikir mengenai penggusuran yang terus terjadi kepada PKL. Ia menilai bahwa masalah PKL adalah permasalahan pelik yang tidak bisa dipandang sebelah mata, terutama bagi jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial. (Kartini Zalukhu)














